![]() |
| Begini Rasanya Bareng AI Menulis Artikel yang Serba Bisa Ini. |
Namun, justru karena kemudahan itu, saya merasa kita tetap perlu menulis. Bukan hanya untuk menyampaikan berita terkini, tetapi juga untuk meninggalkan catatan tentang perjalanan manusia yang hidup pada zaman ini.
Kegundahan dari berbagai persoalan yang kita hadapi sekarang bisa menjadi informasi bagi generasi penerus untuk memahami situasi yang pernah kita alami di zaman ini. Mereka dapat mengetahui bagaimana kita berpikir, menghadapi perubahan, dan menggunakan teknologi yang tersedia pada masa kita hidup sekarang.
Tulisan ini adalah catatan saya tentang menggunakan kecerdasan buatan yang baru saya kenal saat munculnya ChatGPT pertama kali tahun 2022. Itupun saya tidak begitu sadar akan kehadirannya karena pada saat ini saya masih kekeh dengan koding manual.
Lama kelamaan saya merasa takjub dengan kemampuannya, tetapi pada saat yang sama, ada juga perasaan deg-degan ketika menggunakannya.
AI Membantu Merapikan Pikiran yang Berantakan
Saya sering menuliskan sesuatu tanpa urutan yang jelas. Pikiran yang ada di kepala saya tuangkan begitu saja ke dalam tulisan. Kemudian, AI membantu menyusun kalimat-kalimat tersebut agar lebih teratur dan mudah dipahami.
Hasilnya memang mengagumkan. Sesuatu yang awalnya berantakan bisa menjadi tulisan yang mengalir dengan baik.
Saya bisa menyelesaikan tulisan lebih cepat dan membagikan pemikiran kepada orang lain tanpa harus terlalu lama berkutat dengan susunan kalimat.
Namun, ada satu hal yang mulai saya sadari.
Ketika AI Menambahkan Sesuatu yang Bukan Diri Saya
Di balik kemudahannya, ada hal yang terkadang membuat saya kecolongan. AI bukan hanya merapikan tulisan, tetapi juga menambahkan kalimat seolah-olah ingin mengarahkan tulisan menuju sebuah kesimpulan.
Padahal, belum tentu saya ingin menyampaikan kesimpulan tersebut.
Saya sendiri masih mencari cara yang tepat untuk menjelaskan perasaan ini. Saya senang ketika AI membantu menyusun pikiran saya, tetapi kurang nyaman ketika hasilnya memuat sesuatu yang tidak benar-benar saya maksudkan.
Salah satu contohnya terjadi ketika saya menulis artikel tentang Inspirasi DHH dari Rails hingga AI, terdapat kalimat yang lolos dari pengecekan.
Dalam draf awal, saya menulis:
Sudah tidak sabar melihat podcast kedua dengan ternyata ada sebulan lalu ada [tautan podcast].
Kalimat itu memang belum tersusun dengan baik. Maksud saya sederhana: saya baru mengetahui bahwa ternyata ada podcast lainnya yang dirilis sekitar sebulan lalu, dan saya ingin segera menontonnya.
Namun, ketika AI merapikannya, kalimat tersebut berubah menjadi:
Saya masih punya banyak hal untuk dipelajari. Podcast berikutnya pun sudah masuk daftar tontonan.
Sekilas, kalimat hasil perbaikan itu terdengar baik. Akan tetapi, ketika membacanya kembali, saya merasa ada sesuatu yang kurang pas.
Kalimat tentang masih banyak hal yang perlu dipelajari bukanlah sesuatu yang saya tuliskan dalam draf awal. AI menambahkan kesan reflektif yang tidak secara langsung berasal dari pikiran saya.
Bagi saya, ini menjadi pengingat bahwa tulisan yang terdengar bagus belum tentu mewakili apa yang sebenarnya ingin disampaikan penulisnya.
Kalimat awal saya memang perlu diperbaiki, tetapi tidak berarti maksudnya perlu ditambahkan atau diarahkan ke kesimpulan lain.
Jika hanya ingin merapikan kalimat tersebut, sebenarnya cukup ditulis:
Saya baru tahu ternyata ada podcast lainnya yang dirilis sekitar sebulan lalu. Sudah tidak sabar ingin menontonnya juga.
Maksudnya tetap sama, hanya susunan kalimatnya yang diperbaiki.
Tetap Menulis dengan Bantuan AI
Secara keseluruhan, saya merasa sangat terbantu oleh AI. Saya bisa menuliskan pikiran dengan lebih cepat dan membagikannya kepada orang lain tanpa harus menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyusun kalimat.
Saya tidak ingin mengabaikan manfaat tersebut. Namun, pengalaman ini membuat saya semakin menyadari pentingnya membaca ulang tulisan yang sudah dibantu AI.
Bukan hanya untuk memeriksa apakah kalimatnya sudah benar, tetapi juga untuk memastikan apakah isinya masih sesuai dengan pikiran saya sendiri.
AI boleh membantu memperbaiki susunan kalimat. AI boleh membantu membuat tulisan lebih mudah dipahami. Namun, saya tetap ingin memastikan bahwa apa yang saya sampaikan benar-benar berasal dari apa yang ingin saya ungkapkan.
Pada akhirnya, saya ingin tetap menulis, sekalipun sekarang ada AI yang bisa membantu melakukannya dengan lebih mudah.
Terima kasih kepada AI yang telah membantu saya menyelesaikan tulisan dengan lebih cepat. Dan terima kasih juga kepada diri saya sendiri yang masih ingin menulis, membaca ulang, dan mempertanyakan apakah setiap kalimat yang dihasilkan benar-benar mewakili diri saya.
Tentang Penulis
Muhamad Akbar Bin Widayat adalah web developer di AkbarBin, yang membantu bisnis jasa membangun website profesional dan mengembangkan kehadiran mereka di dunia digital.
Melalui blog ini, Akbar membagikan pengalaman, pembelajaran, dan prosesnya dalam membangun website, belajar digital marketing, serta membantu pemilik bisnis beradaptasi dengan dunia digital.
Ingin Mengikuti Prosesnya?
Saya akan terus membagikan pengalaman dan pembelajaran dari proses membangun website dan belajar digital marketing.
Jika Anda sedang mempertimbangkan website untuk bisnis jasa, Anda juga dapat melihat layanan pembuatan website AkbarBin.

Komentar
Posting Komentar