Blog Tips SEO & Website UMKM Lumajang | Akbar Bin

Episode 7 - Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak

Gambar 1: Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak (ilustrasi siklus dari Canva)

Pada episode sebelumnya, penulis telah membahas tentang sasaran produk yang perlu ditentukan di awal. Setelah menuliskan 6 episode dalam rangkaian pembuatan alat bantu untuk kreator, penulis merasa bahwa tulisan berepisode memerlukan adanya gambaran alur cerita. Gambaran alur tersebut dapat membuat cerita lebih terarah dan terukur. Oleh sebab itu, penulis menambahkan judul tentang metodologi Software Development Life Cycle (SDLC) atau Siklus Hidup Pengembangan Perangkat Lunak.

SDLC merupakan kerangka kerja yang digunakan dalam membangun perangkat lunak. Tujuan dari SDLC adalah mengurangi risiko proyek dan memastikan perangkat lunak yang dibangun dapat memenuhi harapan pihak yang terlibat dalam proses pembuatan perangkat lunak termasuk pelanggan. Metodologi ini meliputi serangkaian tahapan yaitu perencanaan, analisis kebutuhan, desain, pengembangan, pengujian, implementasi dan pemeliharaan. Dengan adanya metodologi SDLC maka pengembangan perangkat lunak yang akan dibangun memiliki arah yang jelas dan terukur.

Di episode tahapan sebelumnya mulai dari episode 1 hingga 6 menekankan pada perencanaan pengembangan sebuah produk. Sebagai tambahan dalam tahapan perencanaan adalah perangkat lunak memerlukan rentang waktu dalam membangunnya semisal 6 minggu. Semoga bermanfaat buat kita semua. Terima kasih.


Referensi:

https://dti-jkt.telkomuniversity.ac.id/software-development-life-cycle-sdlc/

https://www.dicoding.com/blog/metode-sdlc/

https://aws.amazon.com/id/what-is/sdlc/

https://sis.binus.ac.id/2024/10/11/sedikit-tentang-sdlc/

Episode 6 - Memaparkan Sasaran Produk

Gambar 1: Pemaparan Sasaran Produk (Ilustrasi sasaran dari Canva)

    Episode 6 ini akan membahas tentang kelanjutan dari artikel sebelumnya tentang meramu nilai - nilai inti produk yaitu menentukan sasaran produk lima tahun kedepan. Waktu begitu penting karena tidak dapat diulangi. Dikarenakan keterbatasan waktu tersebut, penggunaannya perlu dikelola dengan baik supaya dapat digunakan sebagaimana mestinya. Sasaran bak seperti ukuran capaian dalam kurun waktu tertentu yang disesuaikan dengan kemampuan.

  Untuk diketahui penentuan sasaran merupakan salah satu usaha dalam mencapai apa yang ingin dicapai di masa depan. Ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan maka kita tetap mendapat pembelajaran atas pengalaman yang diperoleh agar dapat digunakan dalam membuat sasaran yang lebih baik kedepannya. Adapun sasaran dari produk yang akan dibangun tahun 2025 hingga 2030 diantaranya:
  • 80% pengguna mempublikasikan minimal 1 artikel per bulan.
  • Satu dari seribu pengguna memiliki pembaca 1000 per bulan.
  • 60% pengguna yang menjual karya memiliki pembeli berulang.
  • Lima dari seribu pembaca melakukan pembelian.
  • 80% kreator menampilkan karya dengan bahan ramah lingkungan.
  • Tingkat Kepuasan Pengguna mencapai 80%.
   Tentunya hal tersebut merupakan angka dasar yang memerlukan waktu, tenaga, dan pikiran dalam mencapainya. Bagi teman - teman yang ingin membangun produk, penentuan sasaran ini perlu dibuat sebagai pedoman bersama. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih sudah mampir dan meluangkan waktu untuk membaca.

Referensi:
https://jdih.kemenkeu.go.id/kamus-hukum/sasaran?id=05d00321247f05043b051090cc4febe1



5 Nilai Inti (GCG) Wajib Sebelum Merancang Produk Digital

ilustrasi-prinsip-etika-profesional-gcg
Ilustrasi 5 Nilai Inti (GCG) Wajib Sebelum Merancang Produk Digital


Setelah menerangkan tentang visi dan misi produk pada tulisan sebelumnya, kali ini saya akan membahas tentang nilai-nilai inti yang saya gunakan dalam membangun produk digital ini. Penentuan nilai-nilai ini disusun di awal sebagai pedoman fundamental untuk menjalani hubungan yang baik dan etis dengan pihak terkait, seperti pengembang, pelanggan, pemasok, dan pemerintah.

Pedoman Profesional: Prinsip Good Corporate Governance (GCG)

Nilai-nilai inti yang saya terapkan diambil dari prinsip Good Corporate Governance (GCG) atau Tata Kelola Perusahaan yang Baik. Prinsip-prinsip ini memastikan produk dan bisnis dikelola secara profesional, yang akan sangat membangun kepercayaan pengguna.

Berikut adalah 5 nilai inti yang menjadi pegangan kami:

1. Transparansi (Transparency)

Nilai ini menekankan keterbukaan informasi bagi seluruh pemangku kepentingan. Dalam konteks aplikasi, ini berarti kami akan bersikap terbuka mengenai kebijakan, biaya berlangganan, dan data operasional yang relevan.

2. Pertanggungjawaban (Accountability)

Prinsip ini menjamin adanya kejelasan fungsi, peran, dan pertanggungjawaban pengelola atas hasil kerjanya. Kami berkomitmen untuk bertanggung jawab penuh atas fitur, bug, dan layanan yang kami sediakan.

3. Kepatuhan (Responsibility)

Kepatuhan adalah tentang menjalankan tugas sesuai dengan hukum, etika, dan komitmen lingkungan yang berlaku. Kami memastikan bahwa produk kami tidak melanggar regulasi dan beroperasi secara etis.

4. Kemandirian (Independency)

Prinsip ini memastikan pengelolaan usaha dilakukan secara profesional tanpa ada pengaruh eksternal yang dapat merusak integritas atau independensi produk.

5. Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)

Nilai ini menjamin perlakuan yang adil dan setara untuk semua pihak tanpa diskriminasi. Semua pelanggan dan mitra akan diperlakukan dengan standar yang sama dan setara.

Penutup:

Nilai-nilai inti tersebut di atas menjadi pedoman krusial dalam menjalani usaha. Penentuannya di awal adalah kunci agar kami dapat membangun kepercayaan pihak-pihak yang terlibat dalam usaha ini, mulai dari mitra hingga pelanggan UMKM.

Referensi:

https://www.idx.co.id/id/tentang-bei/tata-kelola-perusahaan

https://www.hukumonline.com/klinik/a/penerapan-prinsip-igood-corporate-governance-i-di-perusahaan-cl6890/

https://accounting.binus.ac.id/2020/06/30/good-corporate-governance-gcg-dan-pedoman-etika-dalam-perusahaan/

Episode 4 - Menentukan Visi dan Misi Produk

Gambar 1: Ilustrasi dari Canva


Halo teman - teman Akbar Corat - Coret.

Setelah menentukan fokus jenis usaha yang dipilih pada episode 3 sebelumnya, pada tulisan kali ini akan membahas tentang perlunya membuat visi dan misi produk. Ide perlu diturunkan menjadi tindakan yang memerlukan arah di masa depan. Penunjuk arah bisa dituliskan pada visi dan misi produk. Visi dan misi tersebut dapat berguna dalam memandu setiap keputusan yang akan dipilih. Melalui tulisan ini penulis akan berbagi tentang visi dan misi dari produk yang nantinya akan dibangun.

Visi:

"Menyediakan wadah untuk kreator dalam berkarya seluasnya dan melestarikan lingkungan terdekatnya."

Misi:

  1. Membuat alat bantu bagi kreator dalam memperluas jangkauan pasarnya.

  2. Mendorong kreator menuju pengembangan usaha yang ramah lingkungan.


Hal tersebut di atas merupakan visi dan misi dari produk yang akan penulis bangun nantinya. Ketika teman - teman melihat adanya kesamaan arah atau melihat adanya ketertarikan untuk menyumbangkan saran dan masukan, penulis dengan senang hati menyambutnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Episode 3 - Memilih Fokus Solusi kepada Kreator Produk Sendiri

Gambar Ilustrasi menggunakan Canva

Setelah tahapan pemaparan respon dari pemilik UMKM dari pemilik usaha UMKM pada tulisan sebelumnya, pada episode ketiga ini pengembang akan membahas tentang penentuan jenis usaha yang dipilih sebagai fokus utama solusi perangkat lunak web yang akan dibangun. Pada saat wawancara kepada responden, pengembang mewancarai berbagai jenis usaha yang terdekat dengan tempat tinggal saya yaitu mulai dari penjahit, tukang cukur, penjual ikan dan hingga toko kelontong. Melalui tulisan ini akan diceritakan tentang cara kerja dari setiap kelompok jenis usaha dan fokus jenis usaha yang dipilih.

Selama membaca ulang tentang hasil wawancara, saya mengamati bahwa terdapat dua jenis usaha yaitu pengusaha yang membuatkan pesanan pelanggan dan dijual langsung kepada pembeli (contohnya: penjahit) dan pelaku usaha yang menyediakan barang jadi kepada pelanggannya (contohnya toko kelontong). Usaha pertama membutuhkan alur yang lebih panjang yaitu menyediakan, mengolah dan menjual barang. Pada jenis usaha pertama ini membutuhkan waktu yang lama dalam menjual barangnya. Untuk jenis usaha kedua memiliki alur yang lebih pendek yaitu menyediakan dan menjual barang namun waktu dalam melakukan penjualan barang kepada konsumen tergolong cepat.

Tentunya dengan memperhatikan perbedaan kedua jenis usaha tersebut, penting sekali untuk menentukan fokus solusi mana yang perlu dipilih dalam menentukan solusi awal. Sehingga pengembang memilih jenis usaha pertama yaitu usaha UMKM maupun kreator individu yang ingin membuat karyanya sendiri dari awal. Nantinya solusi perangkat lunak versi web ini agar dapat digunakan untuk membantu usahanya. Demikian yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Respon Pemilik UMKM dari Wawancara Kebutuhan Perangkat Lunak

Foto Ilustrasi dari Unsplash


Halo pembaca Akbar Corat - Coret,

Pada tulisan sebelumnya, telah dibahas tentang keinginan pribadi saya untuk membuat karya dengan Membangun Perangkat Lunak untuk UMKM Bagian 1. Melalui tulisan ini saya akan berbagi  tentang kelanjutan akan artikel pertama tersebut. Saya melalukan wawancara terkait dengan pencatatan stok dan transaksi keuangan. Dengan adanya wawancara ini bertujuan untuk mengetahui keadaan sekarang tentang usaha yang dijalankan oleh pelaku UMKM.

Dididapatkan temuan bahwa sebagian besar pemilik usaha tidak menulis catatan stok karena mereka tidak merasa perlu akan pencatatan stok. Mereka hanya mengecek stok ketika dibutuhkan saja yaitu ketika ada pembelian baru. Namun terdapat sesuatu temuan yang berbeda ketika terkait dengan pendapatan usaha. Sebagian besar mencatat pendapatan hariannya hari itu agar dapat digunakan untuk modal selanjutnya. Cara menuliskan pendapatannya menggunakan buku tulis.

Tantangan yang dialami oleh pemilik usaha dalam menjalankan usaha yaitu mereka pernah mengalami lupa akan data ketersedian barang, pelanggan dan pesanannya. Masalah yang dialami oleh pemilik usaha tersebut dapat menjadi peluang dalam bagi pengembang aplikasi untuk membantu dalam pencatatan data usahanya. Mereka memberikan saran untuk aplikasinya harus dapat mudah digunakan dan bisa diakses di telepon pintar mereka.

Demikian yang bisa disampaikan tentang pentingnya tahapan wawancara karena wawancara diperlukan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh calon pengguna solusi kita. Terima kasih untuk teman - teman semua sudah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ini. Semoga bisa bermanfaat buat kita semua. Sukses dan sehat selalu buat kita semua.

Foto Ilustrasi