Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Dari Pembuat Website Menjadi Pengembang Digital: Kisah Nyata Terdampar di Ranking 200 Google

Belakangan ini, saya sering membaca sebuah perspektif menarik di sosial media: AI (Artificial Intelligence) sebenarnya memberikan kita peluang besar untuk mempelajari hal-hal baru yang selama ini belum sempat kita sentuh . Dulu, waktu saya sering habis terkuras untuk urusan teknis pekerjaan utama. Sebagai orang yang fokus di bidang pengembangan website, waktu saya habis untuk memastikan baris-baris kode berjalan dengan baik. Akibatnya, saya hampir tidak punya waktu untuk menengok bidang lain di luar urusan development . Namun belakangan ini, fokus dan sudut pandang saya mulai bergeser. Saya tidak lagi ingin sekadar menjadi "pembuat website" yang selesai tugasnya begitu web diluncurkan. Saya ingin bertransformasi menjadi seorang pengembang yang juga memikirkan: Gimana caranya agar website ini beneran ramai pengunjung, dan bisa membantu orang yang beneran butuh jasa kita? Mitos Kecepatan Website: Sebuah Tamparan Realita Dulu, saya sempat punya anggapan bahwa kalau website sudah...

Kenapa Website Tidak Ada Pengunjung? Ternyata Kodingan Cepat Saja Belum Cukup

Saya mulai memanfaatkan Blog untuk menulis semenjak tahun 2008. Namun selama ini, saya masih terjebak menganggap bahwa menulis itu hanya sekadar diari harian untuk mendokumentasikan kegiatan pribadi saya saja. Tahun demi tahun saya tetap menulis dengan tingkat konsistensi yang rendah. Saya menyadari, terkadang muncul rasa jengkel karena artikel ini kok rasa-rasanya peminat yang baca sedikit. Hal itu sempat membuat saya malas dan sempat berhenti menulis. Mau tidak mau, muncul pikiran di dalam hati: Apakah tulisan saya ini sebegitu tidak menarik untuk dibaca? Sempat berpikir seperti itu, hingga akhirnya saya melihat fakta bahwa website yang saya bangun sendiri pun ternyata sepi pengunjung. Mulai dari situ saya berpikir, ada apa ini? Padahal saya sudah mencoba menerapkan berbagai teknik agar website bisa diakses dengan super cepat melalui koding manual, namun hal itu tetap belum bisa mendongkrak pengunjung websitenya. Titik Balik dan Keresahan Timbul Hari demi hari saya berpikir keras. Ba...

Di Era AI, Keahlian Kita Dipaksa Mengkerucut Jadi "V-Shape"

Pernahkah Anda merasa bahwa kehadiran AI di pekerjaan utama justru menuntut kita untuk menguasai bidang lain yang sebelumnya terasa asing? Beberapa waktu lalu, saya melihat postingan seorang praktisi marketing. Dia bercerita bagaimana saat ini tim marketing tidak lagi sekadar membuat copywriting , tapi dituntut bisa analisis data, mengedit video, mencari ide konten, bahkan melakukan evaluasi menggunakan machine learning . Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di dunia marketing. Sebagai seorang web developer yang fokus pada produk digital, saya merasakan urgensi yang sama. Hari ini, menguasai aspek teknis produk saja tidak lagi cukup. Kita juga harus mengerti dunia marketing tentang bagaimana caranya agar produk digital yang kita bangun beneran didatangi oleh pengunjung dan menghasilkan closing . Saya mendapatkan pencerahan yang sangat menarik dari salah satu video Mas Sandika Galih (Web Programming Unpas) . Beliau membahas bagaimana kemampuan yang dulunya berbentuk T-shape (meng...

Saking Hebatnya AI Malah Enggan Menulis: Catatan Sore Tentang Bebas Berfikir

Suara ketukan keyboard sore ini terdengar berbeda. Ada getaran semangat yang rasanya sudah beberapa minggu ini hilang. Hari ini, saya memutuskan untuk kembali membuka halaman kosong dan mengetik tanpa memikirkan struktur, tanpa memedulikan metode masalah-solusi, dan yang terpenting: tanpa bantuan AI tapi untuk editing tetap pakai AI 😊 Belakangan ini saya sempat berada di titik takjub sekaligus ngeri dengan kehebatan teknologi AI. Mulai dari mencari ide konten, menyusun draf, sampai merapikan kalimat, semuanya terasa begitu instan dan sempurna. Kecepatan informasi di media sosial yang berseliweran dengan karya-karya hasil AI yang memukau sempat membuat saya ragu pada kemampuan diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti, "Buat apa saya nulis capek-capek kalau AI bisa bikin yang lebih rapi dalam hitungan detik?" akhirnya berujung pada rasa malas dan enggan untuk menyuarakan isi pikiran sendiri. Kenyamanan instan itu pelan-pelan justru membungkam orisinalitas saya. Ditambah ...