Pertanyaan ini muncul seketika di benak saya siang ini: Ketika semua informasi sudah tersedia di internet, kenapa kita masih perlu menulis? Selama ini saya menyadari ada halangan-halangan mendasar yang sering membuat ragu untuk mulai membagikan tulisan. Keraguan seperti ini terus berputar di kepala, padahal di sisi lain, saya merasa perlu untuk terus konsisten menyuarakan betapa pentingnya website dan aset digital bagi bisnis lokal serta UMKM . Gaya bahasa, sudut pandang, dan pengalaman lapangannmu adalah bumbu rahasia yang tidak bisa di-copy-paste oleh AI mana pun. Rasa penasaran itu membuat saya mencoba berdiskusi dan menanyakannya ke AI siang ini. Dan hasilnya cukup mengejutkan—jawaban yang didapatkan justru memberikan perspektif serta semangat baru bagi saya. Inti Jawaban yang Membuka Pikiran Ternyata, informasi boleh saja sama, tetapi setiap orang memiliki gaya pembawaan dan pengalaman yang berbeda dalam menjelaskan suatu hal. Setiap tulisan pasti memiliki pemirsanya masing-masi...
Belakangan ini, saya sering membaca sebuah perspektif menarik di sosial media: AI (Artificial Intelligence) sebenarnya memberikan kita peluang besar untuk mempelajari hal-hal baru yang selama ini belum sempat kita sentuh . Dulu, waktu saya sering habis terkuras untuk urusan teknis pekerjaan utama. Sebagai orang yang fokus di bidang pengembangan website, waktu saya habis untuk memastikan baris-baris kode berjalan dengan baik. Akibatnya, saya hampir tidak punya waktu untuk menengok bidang lain di luar urusan development . Namun belakangan ini, fokus dan sudut pandang saya mulai bergeser. Saya tidak lagi ingin sekadar menjadi "pembuat website" yang selesai tugasnya begitu web diluncurkan. Saya ingin bertransformasi menjadi seorang pengembang yang juga memikirkan: Gimana caranya agar website ini beneran ramai pengunjung, dan bisa membantu orang yang beneran butuh jasa kita? Mitos Kecepatan Website: Sebuah Tamparan Realita Dulu, saya sempat punya anggapan bahwa kalau website sudah...