Langsung ke konten utama

Kenapa Bisnis Tak Otomatis Ramai Hanya dengan Punya Website?

Wajar sekali jika kita berharap usaha langsung ramai setelah punya website. Namun, sebagai penyedia jasa pembuatan website, saya merasa perlu berbagi pendapat yang lebih utuh agar teman-teman tidak kecewa.

Jujur saja, mendengar ekspektasi itu saya sempat bingung bagaimana menjelaskannya. Di satu sisi, saya ingin memberikan harapan besar. Namun di sisi lain, saya perlu untuk bicara apa adanya sebagai penyedia jasa pembuatan website.

Saya ingin berbagi sudut pandang ini untuk teman-teman UMKM dan Solopreneur lainnya agar kita punya langkah dan ekspektasi yang sama.

Gambar diambil oleh Tem Rysh di Unsplash

Analogi Ruko di Jalan Buntu

Membuat website itu ibarat saya membangunkan Anda sebuah ruko yang menarik, rapi, dan kokoh. Saya pastikan pintunya berfungsi baik, catnya bagus, dan barang-barang di dalamnya tertata dengan informasi harga yang jelas.

Namun, bayangkan jika ruko yang sudah rapi itu saya bangun di jalan buntu atau di tengah hutan.

Apakah akan ada orang yang datang? Kemungkinan besar tidak. Bukan karena rukonya jelek, tapi karena tidak ada orang yang tahu kalau ruko itu ada di sana.

Website adalah "Wadah", Promosi adalah "Papan Jalan"

Di dunia digital, memiliki website hanyalah satu bagian untuk membuat usaha Anda dikenal. Kita perlu berbagi tugas:

  • Tugas Saya (Website): Menyiapkan "rumah" resmi tempat transaksi terjadi, membangun kepercayaan (trust), dan memberikan informasi 24 jam tanpa Anda harus capek balas chat satu per satu hanya untuk menanyakan hal dasar.

  • Tugas Kita Bersama (Promosi): Memasang "papan petunjuk jalan". Ini bisa lewat iklan Facebook/Instagram, aktif posting di TikTok, atau menyebar link di grup WhatsApp.

Kalau website sudah bagus tapi tidak dipromosikan, itu ibarat toko keren yang pintunya digembok rapat. Orang tidak tahu cara masuknya.

Jadi, Kenapa Tetap Harus Punya Website Sederhana?

Kalau memang masih harus promosi lagi, kenapa tidak jualan di media sosial saja? Jawabannya adalah: Profesionalisme.

Promosi Anda di media sosial gunanya untuk memanggil orang agar mau mengunjungi toko Anda. Tapi begitu mereka datang, mereka butuh kepastian. Di website sederhana itulah mereka melihat:

"Oh, alamatnya jelas, harganya transparan, dan pemiliknya serius karena punya domain (alamat toko resmi) sendiri."

Di sanalah pengunjung yang tadinya hanya "lihat-lihat" berubah menjadi "pembeli".

Kesimpulan

Di akbarbin.com, fokus saya adalah membantu Anda menyiapkan "Ruko Digital" yang siap menyambut pelanggan dengan profesional. Tapi mari kita bangun kesepahaman sejak awal: Website adalah fondasi yang luar biasa, namun ia membutuhkan kerjasama strategi promosi agar hasilnya maksimal.

Website yang bagus + Promosi yang konsisten = Itulah kunci bisnis yang ramai.


Bingung mau mulai dari mana? Jangan biarkan bisnis Anda sulit ditemukan di internet. Konsultasikan kebutuhan website sederhana Anda dengan saya melalui tautan akbarbin.com.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Website Tidak Ada Pengunjung? Ternyata Kodingan Cepat Saja Belum Cukup

Saya mulai memanfaatkan Blog untuk menulis semenjak tahun 2008. Namun selama ini, saya masih terjebak menganggap bahwa menulis itu hanya sekadar diari harian untuk mendokumentasikan kegiatan pribadi saya saja. Tahun demi tahun saya tetap menulis dengan tingkat konsistensi yang rendah. Saya menyadari, terkadang muncul rasa jengkel karena artikel ini kok rasa-rasanya peminat yang baca sedikit. Hal itu sempat membuat saya malas dan sempat berhenti menulis. Mau tidak mau, muncul pikiran di dalam hati: Apakah tulisan saya ini sebegitu tidak menarik untuk dibaca? Sempat berpikir seperti itu, hingga akhirnya saya melihat fakta bahwa website yang saya bangun sendiri pun ternyata sepi pengunjung. Mulai dari situ saya berpikir, ada apa ini? Padahal saya sudah mencoba menerapkan berbagai teknik agar website bisa diakses dengan super cepat melalui koding manual, namun hal itu tetap belum bisa mendongkrak pengunjung websitenya. Titik Balik dan Keresahan Timbul Hari demi hari saya berpikir keras. Ba...

Cara Ampuh Menghasilkan Tulisan Pertama Kamu

Pernah merasa kesulitan untuk menulis tulisan pertama kamu? Jika iya, tulisan ini tepat untuk kamu yang ingin berbagi lewat tulisan tapi ragu untuk memulainya. Saat kamu membaca tulisan ini artinya ada ketertarikan untuk menulis. Sebuah pertanda yang baik untuk mempersiapkan diri menulis tulisan pertama kamu. Menulis menurut KBBI adalah melahirkan pemikiran (seperti mengarang atau membuat surat) dengan tulisan. Sedangkan tulisan sendiri memiliki arti hasil menulis. Gambar: Cara Ampuh Menghasilkan Tulisan Pertama Kamu Adapun cara ampuh untuk menulis tulisan pertama kamu dengan menceritakan kegiatan keseharian kamu. Sebagai contoh sebagai Software Developer ingin menuliskan "Bug yang Mengajarkan Kesabaran". Hal tersebut berguna bagi pembaca untuk tahu cara pandang kamu dalam mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah tersebut. Pembaca akan terbantu dengan pengetahuan yang kamu sampaikan tanpa harus mengalaminya sendiri. Percayalah tulisan yang kamu bagikan akan bermanfaat ...

Pengalaman Menawarkan Jasa Website ke UMKM di Lumajang Secara Door-to-Door

Lebih dari satu dekade bekerja sebagai pengembang web membuat saya terbiasa berada di balik layar untuk menulis kode, membangun fitur, dan menyelesaikan berbagai kebutuhan teknis. Namun beberapa waktu terakhir, saya mencoba sesuatu yang berbeda: keluar rumah dan mendatangi pelaku usaha secara langsung untuk menawarkan layanan pembuatan website. Dari pengalaman door-to-door ini, saya belajar bahwa tantangan terbesar bukanlah membuat website, melainkan menjelaskan manfaatnya kepada pemilik usaha yang belum pernah menggunakannya. "Website Itu Apa, Mas?" Saat berbincang dengan beberapa pemilik usaha di Lumajang, saya menemukan bahwa website masih dianggap sebagai sesuatu yang rumit, mahal, dan belum tentu membantu penjualan. Salah satu kalimat yang paling sering saya dengar adalah: "Saya nggak mau ribet, Mas. Yang penting dagangan saya laku." Kalimat sederhana ini membuat saya sadar bahwa banyak pelaku UMKM tidak membutuhkan teknologi yang rumit. Mereka hanya ingin solu...